umum

Dari Senjata ke Algoritma: USAHID Kupas Perang Modern dan Perebutan Kebenaran di Era AI

Sabtu, 11 April 2026 | 19:57 WIB
Narasumber: Fathurrahman Yahya, Didin Nasirudin, Henry Sianipar dan para peserta.

 

BANDUNG NEWS - Universitas Sahid Jakarta kembali menegaskan peran akademisi dalam membaca dinamika global melalui diskusi bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia?” yang digelar pada Jumat, 10 April 2026. Forum ini menghadirkan tiga mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi yang mengulas konflik Amerika Serikat–Israel versus Iran dari perspektif geopolitik, strategi militer, hingga komunikasi global berbasis teknologi. 

Diskusi tersebut menjadi ruang refleksi akademik terhadap perubahan wajah perang modern yang tidak lagi semata mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga melibatkan pengaruh informasi, media, dan kecerdasan buatan. Kaprodi Doktor Ilmu Komunikasi, Prasetya Yoga Santoso, menegaskan pentingnya keterlibatan akademisi dalam isu global.

“Tugas seorang akademisi adalah hadir di titik paling panas persoalan zaman. Diskusi ini adalah tanggung jawab keilmuan kita sebagai bagian dari masyarakat global,” ujarnya.

Baca Juga: Kebebasan Pers Terancam: Koalisi Jurnalis dan Akademisi Kecam Pembredelan Digital oleh Komdigi

Dalam pemaparannya, Fathurrahman Yahya menilai konflik yang terjadi bukanlah peristiwa sporadis, melainkan bagian dari skenario geopolitik jangka panjang sejak pasca-Perang Dingin. Ia menyoroti posisi strategis Selat Hormuz sebagai kunci perebutan energi global.

“Ini perang untuk menentukan siapa yang menguasai jantung energi dunia. AS mendukung Israel dan menekan Iran karena kombinasi tiga kepentingan: energi, keamanan, dan geopolitik,” jelasnya.

Sementara itu, Didin Nasirudin memproyeksikan bahwa Iran tidak akan runtuh meski berada di bawah tekanan militer besar. Ia menyebut skenario paling realistis adalah gencatan senjata tanpa pemenang mutlak.

“Endgame yang paling mungkin adalah gencatan senjata tanpa pemenang mutlak. Iran melemah, tapi tidak hancur,” katanya.

Berbeda dengan dua pembicara sebelumnya, Henry Sianipar menyoroti dimensi baru perang modern yang terjadi pada level kognitif dan epistemologis. Menurutnya, algoritma dan kecerdasan buatan kini menjadi penentu persepsi publik global.

“Kita sudah berada di era Perang Permanen Multi-Dimensi. AI adalah pembentuk realitas,**” tegasnya.

Melalui forum ini, USAHID menegaskan posisinya sebagai ruang produksi pengetahuan strategis di bidang ilmu komunikasi. Di tengah era disrupsi informasi, akademisi diharapkan mampu memahami bahwa perang modern bukan hanya soal senjata, tetapi juga tentang bagaimana kebenaran dikonstruksi, disebarkan, dan diperebutkan di ruang digital. 

 

Terkini