umum

Blokade AS Picu Alarm Global, Ekonom: Harga Energi Terancam Meledak

Rabu, 15 April 2026 | 18:31 WIB
Blokade selat Hormuz oleh AS bisa picuh harga energi

 

BANDUNG NEWS – Kebijakan Amerika Serikat yang memulai blokade terhadap pelabuhan Iran dinilai berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, khususnya sektor energi dan perdagangan internasional.

Meski harga minyak dunia sempat mengalami penurunan akibat harapan dialog, situasi geopolitik yang memanas tetap menyimpan risiko besar bagi perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi menilai bahwa konflik ini tidak bisa dilihat semata sebagai isu regional, melainkan memiliki efek berantai terhadap struktur ekonomi global.

“Blokade ini menyasar jalur strategis energi dunia. Ketika distribusi minyak terganggu, volatilitas harga akan meningkat dan ini berdampak langsung pada inflasi serta biaya produksi di banyak negara,” ujarnya, di Jakarta, Selasa 14 April 2026.

Baca Juga: Cermati Kondisi Timur Tengah, Menteri Haji: Keselamatan Jemaah Prioritas Utama

Menurutnya, meskipun pasar merespons positif dengan turunnya harga minyak akibat ekspektasi dialog, kondisi tersebut bersifat sementara dan sangat rentan berubah.

Noviardi menegaskan bahwa ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, terutama terkait jalur vital seperti Selat Hormuz, dapat memicu gejolak harga energi sewaktu-waktu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dampak tidak langsung juga akan dirasakan oleh daerah-daerah yang ada di Indonesia. Kenaikan harga energi global berpotensi meningkatkan biaya logistik dan distribusi, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.

“Daerah dengan ketergantungan tinggi pada sektor distribusi dan konsumsi akan lebih rentan terhadap shock eksternal seperti ini,” katanya.

Noviardi juga mengingatkan pemerintah untuk memperkuat strategi mitigasi, mulai dari menjaga stabilitas pasokan energi domestik hingga memperkuat ketahanan pangan.

Ia menilai bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada faktor eksternal.

“Di tengah ketidakpastian global, kunci utama adalah memperkuat fondasi ekonomi lokal agar lebih resilien. Jika tidak, gejolak di luar negeri akan terus menjadi ancaman laten bagi stabilitas ekonomi dalam negeri,” tutupnya.

Terkini